Dinas Perumahan Rakyat

Dan Kawasan Permukiman

Provinsi Jawa Tengah

Rapat Persiapan Studi Identifikasi Kawasan Permukiman Tradisional

Semarang(27/01/2022), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah melalui Bidang Kawasan Permukiman menyelenggarakan Rapat Koordinasi Studi Identifikasi Kawasan Permukiman Tradisional bertempat di ruang rapat lantai 2 Disperakim Provinsi Jawa Tengah. Rapat koordinasi diikuti oleh Ketua Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Undip, perwakilan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Parwisata Provinsi Jawa Tengah, perwakilan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, perwakilan Ketua Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota FT Undip, perwakilan DPD IAI Jawa Tengah dan perwakilan DPD IAP Jawa Tengah dengan tujuan pembahasan penyempurnaan KAK Studi Identifikasi Kawasan Permukiman Tradisional.

Rapat dibuka oleh Sub Koordinator Perencanaan Teknis Bidang Kawasan Permukiman Iwan Setiarto, disampaikan bahwa masukan yang diberikan oleh tim ahli yang membidangi kaitan kawasan tradisional dapat membantu tim teknis dalam penyusunan KAK Studi Identifikasi Kawasan Permukiman Tradisional agar lebih terarah.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi, beberapa masukan diantaranya dari akademisi, OPD terkait dan praktisi. Rina Kurniati dari Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota FT Undip menjelaskan bahwa dalam penentuan kriteria dilihat dari aspek landscape kawasan di antaranya pola tata ruang kawasan, elemen landscape dan konsep ruang kawasan, ditambahkan oleh Suzana Kepala Departemen Arsitektur FT Undip terkait aspek bangunan dapat dilihat dari beberapa kriteria antara lain jumlah bangunan, usia bangunan yang memiliki nilai kemanfaatan nasional, langgam dan tata ruang dalam bangunan juga harus diperhatikan, beliau menegaskan dalam penataan kawasan tradisional harus memiliki tujuan yang jelas apakah pengembangan kawasan untuk konservasi atau untuk wisata karena konsep pengembangannya akan berbeda. Selanjutnya masukan dari OPD Provinsi Jawa Tengah yang membidangi kawasan permukiman tradisional disebutkan selain dari fisik dapat dilihat dari non fisiknya untuk memperkuat daya tarik yaitu atraksi wisata buatan (ukir, batik, keris, kuliner dls), budaya (seni pertunjukan, pawai, tarian dls), Potensi alam (air terjun, danau, hutan, pantai dls), Legenda (adat, sejarah, ritual masyarakat dls). Tambahan dari praktisi dalam hal ini perwakilan dari IAP dan DPD IAI Jawa Tengah yaitu terkait regulasi dan kelembagaan masyarakat.

Semarang(27/01/2022), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah melalui Bidang Kawasan Permukiman menyelenggarakan Rapat Koordinasi Studi Identifikasi Kawasan Permukiman Tradisional bertempat di ruang rapat lantai 2 Disperakim Provinsi Jawa Tengah. Rapat koordinasi diikuti oleh Ketua Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Undip, perwakilan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Parwisata Provinsi Jawa Tengah, perwakilan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, perwakilan Ketua Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota FT Undip, perwakilan DPD IAI Jawa Tengah dan perwakilan DPD IAP Jawa Tengah dengan tujuan pembahasan penyempurnaan KAK Studi Identifikasi Kawasan Permukiman Tradisional.

Rapat dibuka oleh Sub Koordinator Perencanaan Teknis Bidang Kawasan Permukiman Iwan Setiarto, disampaikan bahwa masukan yang diberikan oleh tim ahli yang membidangi kaitan kawasan tradisional dapat membantu tim teknis dalam penyusunan KAK Studi Identifikasi Kawasan Permukiman Tradisional agar lebih terarah.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi, beberapa masukan diantaranya dari akademisi, OPD terkait dan praktisi. Rina Kurniati dari Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota FT Undip menjelaskan bahwa dalam penentuan kriteria dilihat dari aspek landscape kawasan di antaranya pola tata ruang kawasan, elemen landscape dan konsep ruang kawasan, ditambahkan oleh Suzana Kepala Departemen Arsitektur FT Undip terkait aspek bangunan dapat dilihat dari beberapa kriteria antara lain jumlah bangunan, usia bangunan yang memiliki nilai kemanfaatan nasional, langgam dan tata ruang dalam bangunan juga harus diperhatikan, beliau menegaskan dalam penataan kawasan tradisional harus memiliki tujuan yang jelas apakah pengembangan kawasan untuk konservasi atau untuk wisata karena konsep pengembangannya akan berbeda. Selanjutnya masukan dari OPD Provinsi Jawa Tengah yang membidangi kawasan permukiman tradisional disebutkan selain dari fisik dapat dilihat dari non fisiknya untuk memperkuat daya tarik yaitu atraksi wisata buatan (ukir, batik, keris, kuliner dls), budaya (seni pertunjukan, pawai, tarian dls), Potensi alam (air terjun, danau, hutan, pantai dls), Legenda (adat, sejarah, ritual masyarakat dls). Tambahan dari praktisi dalam hal ini perwakilan dari IAP dan DPD IAI Jawa Tengah yaitu terkait regulasi dan kelembagaan masyarakat.