Dinas Perumahan Rakyat

Dan Kawasan Permukiman

Provinsi Jawa Tengah

Kunjungan Dan Penyerahan Bantuan Rehab RTLH dari BAZNAS Jateng di Kab.Pekalongan

Tak biasanya, rumah Tarno (53), ramai didatangi orang. Tak hanya tetangga sekitar, banyak tamu asing dan pejabat berseragam datang ke rumah yang terletak di Desa Rowolaku, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Biasanya rumah berukuran 4,1 meter x 4,6 meter itu sepi. Tak pernah terlihat keramaian, karena di rumah itu Tarno tinggal seorang diri. Jangankan tamu penting, tetangga saja jarang yang ramai-ramai datang ke rumahnya.

Ternyata hari ini adalah hari istimewa. Tarno akan kedatangan tamu spesial, orang nomor satu di Jawa Tengah. Ya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, datang ke rumah Tarno untuk memberikan bantuan bedah rumah. Begitu Ganjar datang, senyum bahagia langsung tersungging di wajah Tarno.

Sugeng rawuh Pak Ganjar. Ngapunten ngriyone kadhos meniko (selamat datang Pak Ganjar, maaf rumahnya seperti ini),” kata Tarno.

Rumah Tarno memang jauh dari kata layak. Selain kecil, rumah itu masih berdinding papan dan berlantai tanah. Tidak ada kamar mandi di rumah yang hanya memiliki satu kamar tidur itu.

“Nanti biar didandani (diperbaiki) ya pak, biar lebih nyaman. Nanti dibuatkan kamar mandi sendiri,” ujar Ganjar.

Ganjar yang sedang menggelar Musrenbangwil di Kabupaten Pekalongan menyempatkan diri untuk memberikan bantuan RTLH kepada masyarakat yang membutuhkan. Program ini sudah dilakukan Ganjar sejak dulu dan rutin dilakukan saat Ramadan. Dalam kesempatan kali ini, Ganjar didampingi putri penyanyi dangdut Arafiq, Fadia Arafiq, yang menjabat sebagai Bupati Pekalongan.

“Mumpung ada Musrenbang di Kabupaten Pekalongan, ini bersama Bu Bupati dan kawan-kawan lain termasuk Baznas. Kita coba cari terus ya rumah yang tidak layak huni, mudah-mudahan bisa membantu,” terangnya.

Tarno, lanjut Ganjar, adalah salah satu warga yang membutuhkan bantuan. Ia hidup sendiri karena istri sudah meninggal, dan anak-anaknya bekerja.

“Ini perlu kita bantu, dan saya harap tetangga ikut gotong royong, karena itu cara yang bagus. Ya semuanya harus saling peduli,” jelasnya.

Program RTLH, ujar Ganjar, menjadi prioritas. Apalagi dalam Musrenbang, Ganjar mengatakan ada dua fokus utama, yakni pertumbuhan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan.

“Ini salah satu percepatan penanganan kemiskinan ekstrem. Kita harapkan nanti, di semua kabupaten/ kota juga melakukan hal yang sama. Kalau kami di Provinsi sudah cukup lama bekerja sama dengan Baznas untuk kita bisa salurkan bantuan ke masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Tarno mengaku tak menyangka mendapat kejutan itu. Ia tak pernah bermimpi, didatangi gubernur dan diberikan bantuan secara langsung.

Kula matur nuwun sanget dibantu saking Bapak Gubernur dan perangkat setempat (terima kasih banyak atas bantuan dari Pak Gubernur). Omahe dibangun kersane sae damel ben tenang, men rosa men awet (rumahnya dibangun biar lebih bagus, lebih tenang, lebih kuat dan lebih awet),” ungkapnya.

Tarno mengatakan sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya tak pernah menentu. Biasanya ia dibayar Rp50.000 setiap bekerja di sawah selama sehari.

“Tapi itu juga nggak pasti, nggak bisa diharapkan. Tapi yang jelas saya senang karena persoalan rumah sudah terselesaikan,” pungkasnya.

Tak biasanya, rumah Tarno (53), ramai didatangi orang. Tak hanya tetangga sekitar, banyak tamu asing dan pejabat berseragam datang ke rumah yang terletak di Desa Rowolaku, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Biasanya rumah berukuran 4,1 meter x 4,6 meter itu sepi. Tak pernah terlihat keramaian, karena di rumah itu Tarno tinggal seorang diri. Jangankan tamu penting, tetangga saja jarang yang ramai-ramai datang ke rumahnya.

Ternyata hari ini adalah hari istimewa. Tarno akan kedatangan tamu spesial, orang nomor satu di Jawa Tengah. Ya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, datang ke rumah Tarno untuk memberikan bantuan bedah rumah. Begitu Ganjar datang, senyum bahagia langsung tersungging di wajah Tarno.

Sugeng rawuh Pak Ganjar. Ngapunten ngriyone kadhos meniko (selamat datang Pak Ganjar, maaf rumahnya seperti ini),” kata Tarno.

Rumah Tarno memang jauh dari kata layak. Selain kecil, rumah itu masih berdinding papan dan berlantai tanah. Tidak ada kamar mandi di rumah yang hanya memiliki satu kamar tidur itu.

“Nanti biar didandani (diperbaiki) ya pak, biar lebih nyaman. Nanti dibuatkan kamar mandi sendiri,” ujar Ganjar.

Ganjar yang sedang menggelar Musrenbangwil di Kabupaten Pekalongan menyempatkan diri untuk memberikan bantuan RTLH kepada masyarakat yang membutuhkan. Program ini sudah dilakukan Ganjar sejak dulu dan rutin dilakukan saat Ramadan. Dalam kesempatan kali ini, Ganjar didampingi putri penyanyi dangdut Arafiq, Fadia Arafiq, yang menjabat sebagai Bupati Pekalongan.

“Mumpung ada Musrenbang di Kabupaten Pekalongan, ini bersama Bu Bupati dan kawan-kawan lain termasuk Baznas. Kita coba cari terus ya rumah yang tidak layak huni, mudah-mudahan bisa membantu,” terangnya.

Tarno, lanjut Ganjar, adalah salah satu warga yang membutuhkan bantuan. Ia hidup sendiri karena istri sudah meninggal, dan anak-anaknya bekerja.

“Ini perlu kita bantu, dan saya harap tetangga ikut gotong royong, karena itu cara yang bagus. Ya semuanya harus saling peduli,” jelasnya.

Program RTLH, ujar Ganjar, menjadi prioritas. Apalagi dalam Musrenbang, Ganjar mengatakan ada dua fokus utama, yakni pertumbuhan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan.

“Ini salah satu percepatan penanganan kemiskinan ekstrem. Kita harapkan nanti, di semua kabupaten/ kota juga melakukan hal yang sama. Kalau kami di Provinsi sudah cukup lama bekerja sama dengan Baznas untuk kita bisa salurkan bantuan ke masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Tarno mengaku tak menyangka mendapat kejutan itu. Ia tak pernah bermimpi, didatangi gubernur dan diberikan bantuan secara langsung.

Kula matur nuwun sanget dibantu saking Bapak Gubernur dan perangkat setempat (terima kasih banyak atas bantuan dari Pak Gubernur). Omahe dibangun kersane sae damel ben tenang, men rosa men awet (rumahnya dibangun biar lebih bagus, lebih tenang, lebih kuat dan lebih awet),” ungkapnya.

Tarno mengatakan sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya tak pernah menentu. Biasanya ia dibayar Rp50.000 setiap bekerja di sawah selama sehari.

“Tapi itu juga nggak pasti, nggak bisa diharapkan. Tapi yang jelas saya senang karena persoalan rumah sudah terselesaikan,” pungkasnya.