Disperakim Prov.Jateng Hadir dan ikut serta dalam acara Pengajian Peringatan Muharrom 1444H/ 2022 di Gradhika Bhakti Praja pada Jumat (19/8) yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah H.Ganjar Pranowo, S.H. M.IP, Wakil Gubernur Jawa Tengah H.Taj Yasin Maimoen dan Gus Muwafuq yang akan menyampaikan tausiyah dalam acara tersebut. Dalam kegiatan tersebut dilakukan pula penyerahan bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Prov.Jateng untuk penanggulangan kemiskinan ekstrem yang diberikan secara simbolis kepada Kepala Disperakim Prov.Jateng,Kepala Badan Kesbangpol Prpv.Jateng, Kepala DKP Prov.Jateng, Takmor Masjid Baitul Makmur Desa Sidorejo Kec.Karangawen Kab.Demak, Pengasuh Panti Asuhan Al Harun Kec.Ungaran Barat Kab Semarang dan Pengasuh Panti Asuhan Daril Quro Kec.Gunungpati Kota Semarang.
Gubernur Jawa Tengah menyerahkan secara simbolis bantuan RSLH dan Jamban Kepada warga miskin di Jawa tengah kepada Kepala Disperakim Prov.Jateng, Ir.Arief Djatmiko, Selanjutnya, dilakukan tausyiah Pengajian Peringatan Muharrom 1444H/2022 oleh Gus Muwafuq dengan pembahasan terkait tanggung jaeab dalam menjaga persatuan yang harus dimili bangda indonesia. Agama jangan dijamdikan alat pencabik persatuan. “Kebaikan manusia yang kita cita-citakan akan habis, kebaikan agama budaya dan peradaban juga akan hilang. Kalau tidak tercipta perdamaian, tidak ada keamanan bangsa dan negara. Itu kuncinya,” ujarnya.
Gus Muwafiq mengatakan, para pendiri bangsa tidak mudah dalam membentuk konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, dasar-dasar negara yang hingga kini dijaga penuh nilai Islam.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ditemui usai acara mengatakan, tausyiah dari Gus Muwafiq adalah gambaran besar kekhasan Indonesia, yang punya ragam cara untuk bersatu.
“Tentu dengan kulturnya, dengan nilai-nilainya, dan itu dibiayai tanpa sadar. Orang mau pengajian, datang berbondong-bondong, maka kemudian menggerakkan semuanya,” katanya.
Ganjar mengatakan, kekuatan masyarakat dengan adat dan budayanya masing-masing menjadi pondasi dalam menjaga persatuan. Mantan anggota DPR RI itu menegaskan, harus ada yang menginisiasi terus menerus, tidak pernah berhenti dan saling mengingatkan.
“Di situlah kemudian orang akan saling memahami, mengerti, untuk tidak menyakiti. Itu nilai persatuan yang menurut saya, secara kultural tadi beliau sampaikan bagus banget,” tegasnya.
Disperakim Prov.Jateng Hadir dan ikut serta dalam acara Pengajian Peringatan Muharrom 1444H/ 2022 di Gradhika Bhakti Praja pada Jumat (19/8) yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah H.Ganjar Pranowo, S.H. M.IP, Wakil Gubernur Jawa Tengah H.Taj Yasin Maimoen dan Gus Muwafuq yang akan menyampaikan tausiyah dalam acara tersebut. Dalam kegiatan tersebut dilakukan pula penyerahan bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Prov.Jateng untuk penanggulangan kemiskinan ekstrem yang diberikan secara simbolis kepada Kepala Disperakim Prov.Jateng,Kepala Badan Kesbangpol Prpv.Jateng, Kepala DKP Prov.Jateng, Takmor Masjid Baitul Makmur Desa Sidorejo Kec.Karangawen Kab.Demak, Pengasuh Panti Asuhan Al Harun Kec.Ungaran Barat Kab Semarang dan Pengasuh Panti Asuhan Daril Quro Kec.Gunungpati Kota Semarang.
Gubernur Jawa Tengah menyerahkan secara simbolis bantuan RSLH dan Jamban Kepada warga miskin di Jawa tengah kepada Kepala Disperakim Prov.Jateng, Ir.Arief Djatmiko, Selanjutnya, dilakukan tausyiah Pengajian Peringatan Muharrom 1444H/2022 oleh Gus Muwafuq dengan pembahasan terkait tanggung jaeab dalam menjaga persatuan yang harus dimili bangda indonesia. Agama jangan dijamdikan alat pencabik persatuan. “Kebaikan manusia yang kita cita-citakan akan habis, kebaikan agama budaya dan peradaban juga akan hilang. Kalau tidak tercipta perdamaian, tidak ada keamanan bangsa dan negara. Itu kuncinya,” ujarnya.
Gus Muwafiq mengatakan, para pendiri bangsa tidak mudah dalam membentuk konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, dasar-dasar negara yang hingga kini dijaga penuh nilai Islam.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ditemui usai acara mengatakan, tausyiah dari Gus Muwafiq adalah gambaran besar kekhasan Indonesia, yang punya ragam cara untuk bersatu.
“Tentu dengan kulturnya, dengan nilai-nilainya, dan itu dibiayai tanpa sadar. Orang mau pengajian, datang berbondong-bondong, maka kemudian menggerakkan semuanya,” katanya.
Ganjar mengatakan, kekuatan masyarakat dengan adat dan budayanya masing-masing menjadi pondasi dalam menjaga persatuan. Mantan anggota DPR RI itu menegaskan, harus ada yang menginisiasi terus menerus, tidak pernah berhenti dan saling mengingatkan.
“Di situlah kemudian orang akan saling memahami, mengerti, untuk tidak menyakiti. Itu nilai persatuan yang menurut saya, secara kultural tadi beliau sampaikan bagus banget,” tegasnya.