Dinas Perumahan Rakyat

Dan Kawasan Permukiman

Provinsi Jawa Tengah

Monitoring Pemanfaatan Teknologi Hijau Bersama BP2P Jawa III

Jepara – Dalam rangka mendukung pembangunan berkelanjutan dan menunjukkan komitmen perumahan terhadap solusi inovatif dan ramah lingkungan, diperlukan upaya pendekatan melalui pemanfaatan teknologi hijau. Salah satu teknologi hijau yang menarik perhatian adalah pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dalam berbagai aplikasi. FABA yang merupakan produk sampingan dari pembakaran batubara dalam pembangkit listrik tenaga uap yang dikategorikan sebagai limbah non B3 dan dapat dimanfaatkan sebagai material substitusi bahan bangunan. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah bersama dengan Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan Jawa III telah melaksanakan monitoring pemanfaatan FABA pada Perumahan Mutiara Hati 2 Jepara pada Rabu (30/10/24). 

FABA dimanfaatkan sebagai material campuran pembuatan bata interlock dengan komposisi tertentu yang dirancang untuk menghasilkan konstruksi dinding yang kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan. Komposisi pembuatan bata interlock ini biasanya mencakup campuran 50-60% Fly Ash, 30-40% pasir, dan 10-15% semen. Proses pembuatan bata dimulai dengan mencampurkan Fly Ash, pasir, dan semen dengan sedikit air untuk mencapai konsistensi yang optimal. Campuran tersebut kemudian dicetak menggunakan cetakan interlock yang presisi, sehingga bata yang dihasilkan memiliki bentuk yang saling mengunci (interlocking). Hal ini memungkinkan pemasangan bata tanpa memerlukan banyak mortar serta mengurangi biaya konstruksi dan waktu pengerjaan.

Penggunaan Fly Ash dalam bata interlock menghasilkan material yang lebih ringan dan mudah dipasang, serta memiliki insulasi termal yang baik. Selain mengurangi limbah pembakaran batu bara, bata ini juga mendukung konsep bangunan hijau (green building) dengan menekan penggunaan semen, mengurangi penggunaan material hasil galian C dan mengurangi emisi karbon dalam produksi material konstruksi.

 

Penulis : Rohman

Editor : Gema

Tim Redaksi : Bid. Keterpaduan PKP

Jepara – Dalam rangka mendukung pembangunan berkelanjutan dan menunjukkan komitmen perumahan terhadap solusi inovatif dan ramah lingkungan, diperlukan upaya pendekatan melalui pemanfaatan teknologi hijau. Salah satu teknologi hijau yang menarik perhatian adalah pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dalam berbagai aplikasi. FABA yang merupakan produk sampingan dari pembakaran batubara dalam pembangkit listrik tenaga uap yang dikategorikan sebagai limbah non B3 dan dapat dimanfaatkan sebagai material substitusi bahan bangunan. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah bersama dengan Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan Jawa III telah melaksanakan monitoring pemanfaatan FABA pada Perumahan Mutiara Hati 2 Jepara pada Rabu (30/10/24). 

FABA dimanfaatkan sebagai material campuran pembuatan bata interlock dengan komposisi tertentu yang dirancang untuk menghasilkan konstruksi dinding yang kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan. Komposisi pembuatan bata interlock ini biasanya mencakup campuran 50-60% Fly Ash, 30-40% pasir, dan 10-15% semen. Proses pembuatan bata dimulai dengan mencampurkan Fly Ash, pasir, dan semen dengan sedikit air untuk mencapai konsistensi yang optimal. Campuran tersebut kemudian dicetak menggunakan cetakan interlock yang presisi, sehingga bata yang dihasilkan memiliki bentuk yang saling mengunci (interlocking). Hal ini memungkinkan pemasangan bata tanpa memerlukan banyak mortar serta mengurangi biaya konstruksi dan waktu pengerjaan.

Penggunaan Fly Ash dalam bata interlock menghasilkan material yang lebih ringan dan mudah dipasang, serta memiliki insulasi termal yang baik. Selain mengurangi limbah pembakaran batu bara, bata ini juga mendukung konsep bangunan hijau (green building) dengan menekan penggunaan semen, mengurangi penggunaan material hasil galian C dan mengurangi emisi karbon dalam produksi material konstruksi.

 

Penulis : Rohman

Editor : Gema

Tim Redaksi : Bid. Keterpaduan PKP