Dinas Perumahan Rakyat

Dan Kawasan Permukiman

Provinsi Jawa Tengah

Kunjungan Lapangan dalam rangka Pengumpulan Data dan Studi Awal dalam rangka Kegiatan Tahun 2022 di Kampung Jalawastu

Brebes - Disperakim Provinsi Jateng melaksanakan kunjungan lapangan dalam rangka pengumpulan data dan studi awal dalam rangka kegiatan tahun 2022 di Kampung Jalawastu Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes pada Selasa (14/9).

Didampingi unsur Pemerintah Kabupaten dalam hal ini Baperlitbanda Brebes Kiki El Hakim menuju Kampung Jalawastu yang merupakan desa adat yang ada di Kabupaten Brebes terdiri dari 70 bangunan dan 90 Kepala Keluarga. Keunikan sangat nampak pada kampung ini dimana penggunaan bahasanya, walaupun kebanyakan masyarakat di sana berasal dari etnis Jawa, namun dalam berkomunikasi sehari-hari mereka justru menggunakan Bahasa Sunda. Hal ini tidak terlepas dari posisi geografisnya yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat.

Keunikan lain dari Kampung Adat Jalawastu adalah adanya pantangan (pamalian) membangun rumah dengan menggunakan semen, keramik, dan genteng atau tanah liat yang dibakar. Pamali ini menurut Dastam, pemangku adat Kampung Jalawastu merupakan adat kebiasaan yang sudah turun menurun dimana masyarakat percaya akan tertimpa musibah bila menggunakan material bangunan tersebut. Unsur yang diperbolehkan seperti kayu, besi, plastik dan batu, oleh sebab itulah warga kampung masih mempertahankan bangunan rumah tradisional berlantai tanah/ kayu, berdinding papan kayu, dan beratapkan seng, untuk kelengkapan rumah seperti kloset bahan yang digunakan adalah plastik. Selain pantangan fisik kampung jalawastu juga terdapat pantangan lainnya seperti pementasan wayang, memelihara angsa, domba, dan kerbau, serta menanam bawang merah. Menurut dastam, pementaskan wayang, menurut Dastam pemangku adat Kampung Jalawastu, tidak diperbolehkan lantaran berkaitan dengan memainkan peran manusia, sedangkan memelihara hewan tertentu dilarang karena dianggap mengotori lingkungan.

Sebagai salah satu destinasi wisata yang unik dan menarik Kampung Jalawastu patut untuk dikembangkan, dimana Kampung Jalawastu terdapat banyak kendala terutama pada sektor infrastruktur. Kondisi jalan aspal menuju lokasi yang mulai terkelupas, persampahan yang belum terkelola dengan baik, tidak adanya sistem sanitasi terpusat, pemanfaatan sumber mata air yang belum terkelola dengan baik, serta sarana penunjang pariwisata yang belum lengkap.

Berkaitan dengan hal tersebut perlu perhatian khusus dalam upaya mempertahankan dan melestarikan kawasan adat tersebut, serta dalam rangka pemenuhan tempat tinggal dan berkehidupan yang layak//berkualitas bagi masyarakat kampung tersebut sesuai amanah perundangan, sekaligus mengangkat ekonomi masyarakat sekitar.

Salah satu upaya yang dilakukan kedepan adalah mengidentifikasi kawasan permukiman adat/tradisional. Kawasan permukiman adat/tradisionalini memiliki karakter dan tipologi berbeda-beda. Dengan adanya identifikasi ini diharapkan akan ditemukenali upaya penangan dan pemenuhan

Brebes - Disperakim Provinsi Jateng melaksanakan kunjungan lapangan dalam rangka pengumpulan data dan studi awal dalam rangka kegiatan tahun 2022 di Kampung Jalawastu Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes pada Selasa (14/9).

Didampingi unsur Pemerintah Kabupaten dalam hal ini Baperlitbanda Brebes Kiki El Hakim menuju Kampung Jalawastu yang merupakan desa adat yang ada di Kabupaten Brebes terdiri dari 70 bangunan dan 90 Kepala Keluarga. Keunikan sangat nampak pada kampung ini dimana penggunaan bahasanya, walaupun kebanyakan masyarakat di sana berasal dari etnis Jawa, namun dalam berkomunikasi sehari-hari mereka justru menggunakan Bahasa Sunda. Hal ini tidak terlepas dari posisi geografisnya yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat.

Keunikan lain dari Kampung Adat Jalawastu adalah adanya pantangan (pamalian) membangun rumah dengan menggunakan semen, keramik, dan genteng atau tanah liat yang dibakar. Pamali ini menurut Dastam, pemangku adat Kampung Jalawastu merupakan adat kebiasaan yang sudah turun menurun dimana masyarakat percaya akan tertimpa musibah bila menggunakan material bangunan tersebut. Unsur yang diperbolehkan seperti kayu, besi, plastik dan batu, oleh sebab itulah warga kampung masih mempertahankan bangunan rumah tradisional berlantai tanah/ kayu, berdinding papan kayu, dan beratapkan seng, untuk kelengkapan rumah seperti kloset bahan yang digunakan adalah plastik. Selain pantangan fisik kampung jalawastu juga terdapat pantangan lainnya seperti pementasan wayang, memelihara angsa, domba, dan kerbau, serta menanam bawang merah. Menurut dastam, pementaskan wayang, menurut Dastam pemangku adat Kampung Jalawastu, tidak diperbolehkan lantaran berkaitan dengan memainkan peran manusia, sedangkan memelihara hewan tertentu dilarang karena dianggap mengotori lingkungan.

Sebagai salah satu destinasi wisata yang unik dan menarik Kampung Jalawastu patut untuk dikembangkan, dimana Kampung Jalawastu terdapat banyak kendala terutama pada sektor infrastruktur. Kondisi jalan aspal menuju lokasi yang mulai terkelupas, persampahan yang belum terkelola dengan baik, tidak adanya sistem sanitasi terpusat, pemanfaatan sumber mata air yang belum terkelola dengan baik, serta sarana penunjang pariwisata yang belum lengkap.

Berkaitan dengan hal tersebut perlu perhatian khusus dalam upaya mempertahankan dan melestarikan kawasan adat tersebut, serta dalam rangka pemenuhan tempat tinggal dan berkehidupan yang layak//berkualitas bagi masyarakat kampung tersebut sesuai amanah perundangan, sekaligus mengangkat ekonomi masyarakat sekitar.

Salah satu upaya yang dilakukan kedepan adalah mengidentifikasi kawasan permukiman adat/tradisional. Kawasan permukiman adat/tradisionalini memiliki karakter dan tipologi berbeda-beda. Dengan adanya identifikasi ini diharapkan akan ditemukenali upaya penangan dan pemenuhan